LENSAPEWARTA.COM INSPIRASI - Seperti penyanyi legendaris kondang yang menjadi idola setiap pemuda ...."Kisah usang tikus-tikus kantorYang suka berenang disungai yang kotor ..Kisah usang tikus-tikus berdasiYang suka ingkar janji..Lalu sembunyi 
dibalik mejaTeman sekerja Didalam lemari dari baja Kucing datang Cepat ganti muka Segera menjelma Bagai tak tercela...
 
Masa bodoh hilang harga diri Asal tidak terbukti ahTentu sikat lagi...
Tikus-tikus tak kenal kenyangRakus-rakus bukan kepalangOtak tikus memang bukan otak udangKucing datangTikus menghilang
 
Kucing-kucing yang kerjanya molorTak ingat tikus kantorDatang men-terorCerdik licikTikus bertingkah tengikMungkin karena sang kucingPura-pura mendelik
Tikus tahu sang kucing laparKasih roti jalanpun lancarMemang sial sang tikus teramat pintarAtau mungkin sikucing yang kurangDitatar !..(lagu Iwan Fals berjudul Tikus Kantor)
 

Tikus berdasi sang koruptor mendapatkan ruang segar tatkala kekuasaan politik bermain dan menembus batas ranah hukum. Kekuasaan politik bermain mendapat dukungan DPR untuk menjelma menjadi kucing molor. Bagaimana kita mengharapkan kepada kucing sementara kucing itu sudah menjadi tikus. Tikus berdasi sang koruptor mendapatkan ruang segar ketika DPR yang mempunyai fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan tidak menjadi representasi rakyat, tidak menjadi lembaga perwakilan rakyat, condong menjadi representasi penguasa korup.

Tikus kantor akan gerah berhadapan dengan KPK. Maka upaya melemahkan KPK adalah bagian dari cara tikus kantor melakukan perlawanan. Kepanikan luar biasa menjerat tikus kantor karena KPK bukan jelmaan kucing molor tapi KPK adalah kucing pemburu tikus. Apakah tikus kantor bisa hidup di dunia usaha seperti industri musik atau otomotif? Ataukah tikus kantor hanya hidup di pemerintah? (Red **)
Diberdayakan oleh Blogger.