Banjarnegara – Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP khawatir jika impor beras jadi dilakukan oleh pemerintah bertepatan pada waktu panen raya pada Februari-Maret 2018 justru akan merugikan petani karena akan membuat harga ditingkat petani jatuh. Karenanya sebelum melakukan impor beras pemerintah diminta untuk menghitung kembali cadangan beras nasional yang ada.

“Barusan saya telpon sama pak Mentan, kemarin juga sudah kita laporkan ke Pak Presiden agar kita menghitung betul cadangan beras nasional kita,” kata Ganjar usai meninjau harga beras dan berdialog dengan pedagang Pasar Kota Banjarnegara, Selasa (16/1).

Menurut Ganjar jika cadangan beras nasional dianggap cukup, dia meminta agar rastra segera diturunkan dan juga melakukan operasi pasar di sentral-sentral yang harga berasnya mengalami fluktuatif. Sehingga dapat segera menstabilkan harga.

Ganjar menilai impor beras tidak perlu masuk ke Jawa Tengah karena provinsi yang dipimpinnya sudah swasembada beras. Sehingga impor beras sebaiknya diberikan kepada daerah-daerah di luar Jawa Tengah yang membutuhkan saja.

“Kita dorong kalau ada di daerah di luar Jawa Tengah yang membutuhkan seperti itu (impor beras) mangga saja kalau mau dipenuhi. Tapi kalau Jawa Tengah saran saya kalau masih cukup tidak usah, biar stabil harganya,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan harga beras, gubernur telah memerintahkan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah untuk menghitung jumlah kapasitas daerah yang akan panen pada Februari-Maret mendatang agar bisa memprediksi stok cadangan beras. Bulog juga diminta untuk langsung bertindak melakukan operasi pasar di tempat-tempat yang harganya mengalami fluktuatif cukup signifikan. Tidak hanya itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) beserta pihak Kepolisian juga diminta turun untuk mencegah ada oknum-oknum yang memainkan harga beras.

Untuk mengantisipasi cuaca yang dapat mengganggu panen petani, Ganjar meminta Bulog menyediakan alat pengering gabah. Sehingga mereka bisa membeli gabah petani dengan kondisi sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian, yakni Rp 3.700 per kilogram.

“Antisipasi cuaca berdasarkan pengalaman kemarin, Bulog sekarang mesti menyediakan satu instrumen agar bisa mengeringkan. Sehingga dari petani itu bisa dibeli dalam kondisi seperti Peraturan Menteri Pertanian,” tuturnya.

Saat meninjau harga beras di Pasar Kota Banjarnegara, Ganjar cukup terkejut mendapati harga beras C4 sekitar Rp 13.000per kilogram sejak dua minggu terakhir. Menurutnya dengan harga seperti itu sudah layak untuk melakukan operasi pasar agar harga beras bisa stabil pada kisaran Rp 9.000-10.000 per kilogram.

“Di pasar ini saya lihat sampai C4 sampai Rp 13.000, maka ini layak untuk segera dilakukan operasi pasar,” pungkasnya.(diskominfo Jateng)

Diberdayakan oleh Blogger.