INSPIRASI - Sebuah agenda besar dari demokrasi tentunya adalah Pemilu, baik itu Pemilu Legislatif maupun eksekutif (kepala daerah/Presiden). Ketika menjelang masa-masa Pemilu begitu riuhnya hiruk pikuk perpolitikan di negeri kita. Seolah tidak ada yang lain lagi isu di negara ini, walaupun ada namun nuansa politis sangat kental mengisi berbagai media. Begitu kuatnya aroma intrik dalam masa-masa tersebut

Pemilihan Kepala Daerah atau yang biasa disebut PILKADA merupakan salah satu dari implementasi adanya demokrasi di Indonesia. Pilkada pada era sekarang ini dilaksanakan secara langsung dan salah satu yang sangat berpengaruh dalam jalannya pilkada adalah pihak media.Para kandidat berlomba – lomba mempromosikan dirinya dan misi – misinya dengan harapan menarik persepsi positif dari publik.

Dengan kelebihannya menjangkau ruang dan waktu, media massa mampu memasuki wilayah yang tak mampu dijangkau media lain. Sangat efektif untuk mempublikasikan kandidat, karena semua orang hampir mempunyai akses dalam memperoleh informasi lewat media

Media massa harus tetap  menjalankan fungsinya sebagai alat kontrol terhadap pemerintah dan penyelenggara pilkada, dengan demikian pemilihan kepala daerah berlangsung secara transparan, sah, dan kredibel di mata hukum. Media massa sangat membantu dalam proses sosialisasi pilkada dan ikut menyukseskannya.

Para kandidat pun sudah sadar kompetisi dalam pilkada bukan lagi perang fisik (kekuatan) tetapi perang persepsi. Kunci kemenangan dalam persepsi ini terletak dalam strategi memenangkan mind-share (pangsa benak) pemilih, termasuk dalam strategi dalam pemilihan media yang cocok (media selection) untuk menyampaikan pesan positif kepada publik melalui media masa.
Peran media massa

Secara umum media massa memiliki berbagai fungsi bagi khalayaknya yaitu pertama, sebagai pemberi informasi; kedua, pemberian komentar atau interpretasi yang membantu pemahaman makna informasi; ketiga, pembentukan kesepakatan; keempat, korelasi bagian-bagian masyarakat dalam pemberian respon terhadap lingkungan; kelima, transmisi warisan budaya; dan keenam, ekspresi nilai-nilai dan simbol budaya yang diperlukan untuk melestarikan identitas dan kesinambungan masyarakat

Oleh karena itu media massa seharusnya menjadi sarana pencerahan dan transformasi nilai-nilai kebenaran agar masyarakat dapat melihat secara apa adanya. Media sebaiknya tidak memunculkan kesan yang terlalu menilai atau keberpihakan dalam masa kampanye Pemilu. Seharusnya media menyampaikan informasi yang sebenarnya, jelas hitam putihnya. Sehingga masyarakat tidak terjebak pada pilihan mereka, karena persoalan Pemilu adalah persoalan masa depan bangsa. Media harus mampu bersikap objektif dalam penayangan berita.

Dalam sebuah tulisan di Majalah Time, Henry Gunward pernah menulis jargon: no democracy without free press. Statemen ini senada dengan pidato Presiden Thomas Jefferson yang sangat populer: “Jika saya disuruh memilih antara pemerintah tanpa pers yang bebas dan pers bebas tanpa pemerintah, maka saya akan memilih pers bebas tanpa pemerintah”.

Keberadaan pers lokal sebagai subsistem arena percaturan politik di tingkat lokal mengharuskan adanya landasan profesionalisme dan idealisme yang kuat. Tanpa profesionalisme, media pers tidak akan memperoleh kepercayaan masyarakat. Berkembangnya pers lokal harus dimaknai secara bijaksana oleh stakeholder media sehingga fungsi “memberdayakan” (empowering) masyarakat lewat media tidak berubah makna menjadi “memperdayakan” (disempowering) sebagaimana euforia kebebasan pers di awal era reformasi beberapa waktu lalu: “Yang penting terbit, urusan lain belakangan”.

Di sisi lain, sebagai sebuah institusi bisnis, pers lokal juga harus meningkatkan mutu manajemen media yang pada gilirannya mampu menyehatkan perusahaan dan meningkatkan kesejahteraan para pekerja media yang bersangkutan. Gempuran persaingan dengan media-media lain juga akan menguji sampai sejauh mana eksistensi pers daerah di masa-masa mendatang. Dalam menyikapinya maka peningkatan kapasitas manajerial harus dilakukan melalui berbagai pendidikan dan pelatihan yang intensif.

Publik pembaca juga harus berupaya meningkatkan pemahaman tentang melek media (media literacy) sehingga dapat meningkatkan apresiasi dan partisipasi bermedia secara sehat dan kritis guna mendorong terciptanya good local government dalam arti sesungguhnya, yaitu menjamin adanya partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas, termasuk pada pelaksanaan pilkada 2018 yang berlangsung di berbagai daerah di Indonesia. (Red** )


Diberdayakan oleh Blogger.