LENSAPEWARTA.COM, TEGALRAYA - Siapa yang tidak kenal Enthus Susmono? Seorang Dalang yang paling mahir dan ‘badung’ dalam mendesain wayang-wayang kontemporer. Ia membangun konstruksi wayang dengan refleksi tokoh-tokoh dunia. Ia bahkan mampu membawa pertunjukan wayangnya menjadi sebuah media alternative dalam menyampaikan pesan.Pertunjukan dengan gaya itu pula yang selalu mampu menyedot ribuan penonton.

Pada tanggal 8 Januari 2014 ia resmi dilantik sebagai Bupati Tegal berpasangan dengan Dra. Umi Azizah untuk periode 2014 – 2018. Pasangan tersebut  kembali mencalonkan diri sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tegal untuk periode 2018 -2023 dengan nomor undian 3.

tentang berkah politik karena ada beberapa calon didaerah lain yang menebar uang audien dalam setiap pertemuan bersosialisasi.

“ Berkah apane… kuwe dudu keberkahan,” demikian Enthus dalam logat Tegalnya ketika ditemui tim lensapewarta.com di Padepokannya Jalan raya Bengle, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal (Senin,26/2)

Terlepas dari dinamika politik, Enthus merupakan seorang Dalang paling kreatif dan produktif dalam bercipta karya wayangnya. Selain dalang wayang kulit, Enthus Susmono juga menciptakan “Wayang Santri” sebagai pengembangan tradisi seni pertunjukan wayang tradisional / purwa yang tidak terikat pada pakem epos Ramayana maupun Mahabharata.

Anak ‘ontal-antil’alias semata wayang dari Soemarjadihardja yang juga Dalang wayang golek kesohor di Tegal ini, memang merupakan titisan dari trah Dalang terkenal RM Singadimedja asal Bagelan pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat di Mataram

Enthus sendiri dilahirkan didesa Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal  pada tanggal 21 Juni 1966. Beda dari leluhurnya, Enthus sang cucu menempatkan tokoh Lupit dan Slenteng sebagai tokoh fiktif yang sekaligus juga tokoh sentralnya.

Ratusan karyanya tersimpan di museum antara lain Tropen Museum di Amsterdam, Belanda, Museum of International Folk Arts (MOIFA) di New Mexico dan Museum Wayang Walter Angts di Jerman.

Pada tahun 2005, ia menerima gelar Doktor Honoris Causa (DHc) bidang seni budaya dari International Universitas Missouri, U.S.A dan Laguna College of Bussines and Arts, Calamba, Philippines.

Pada 2007 memecahkan Rekor  MURI sebagai dalang terkreatif dengan menampilkan kreasi jenis wayang terbanyak (1491 wayang)

Semasa pemerintahannya, ia banyak menerima penghargaan seperti Upakarti Reksa Manggala Budaya dari Unnes, Manggala Karya Kencana dari BKKBN serta puluhan penghargaan lainnya di bidang pemerintahan yang diraih karena keberhasilannya di berbagai bidang,seperti Piala Adipura tahun 2017.

Kini di tahun 2018, masyarakat Kabupaten Tegal sedang dihadapkan pada pilihan untuk menentukan masa depan daerahnya dengan adanya pesta demokrasi Pilbup 2018. Seperti kata bijak, teknologi jatuh ketangan orang yang salah, maka hasilnya akan salah. Segala sesuatu jika diawali dengan proses yang salah, maka akan menghasilkan produk yang salah,” (RED/ CN/Anis Yahya)
Diberdayakan oleh Blogger.