LENSAPEWARTA.COM, JAKARTA - Kehadiran ratusan pengemis yang berasal dari berbagai daerah memenuhi pekarangan klenteng atau wihara masing-masing Kotamadya Jakarta selama perayaan Hari Raya Imlek rupanya kini tidak lagi menjadi momok pemerintah Ibukota. Para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) itu tidak lagi menetap, petugas justru dikhawatirkan dengan banyaknya temuan Orang Dalam Masalah Kejiwaan (ODMK).

Kepala Seksi Data dan Informasi Dinas Sosial DKI Jakarta, Miftahul Huda berdasarkan data yang berhasil dihimpun sejak sepekan belakangan, tepatnya Hari Raya Imlek pada Jumat (16/2/2018) hingga Kamis (22/2/2018). Petugas Pelayanan,

Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) masing-masing wilayah Kotamadya DKI Jakarta berhasil menjangkau sejumlah PMKS yang justru menemukan banyak ODMK.

Data milik Petugas P3S Sudin Sosial Jakarta Timur, mereka berhasil mengamankan sebanyak enam orang gelandangan, 15 ODMK, 11 orang pengamen, 13 orang terlantar, empat orang pengemis, seorang anak terlantar dan enam orang juru parkir liar.

Sedangkan petugas P3S Sudin Sosial Jakarta Pusat berhasil mengamankan sebanyak 11 orang gelandangan, tiga orang pengemis, lima orang terlantar, tiga orang ODMK, seorang pengamen dan tiga orang anak jalanan.

Petugas P3S Sudin Sosial Jakarta Utara berhasil mengamankan sebanyak lima orang gelandangan, seorang ODMK dan seorang pengamen. Petugas P3S Sudin Sosial Jakarta Selatan berhasil mengamankan 8 orang gelandangan, 7 pengemis, 3 orang ODMK, 1 orang pengamen, 1 orang anak jalanan.

"Data (penjangkauan PMKS) Jakarta Barat masih direkap, tapi tidak berbeda dengan Utara, didominasi gelandangan dan ODMK. Pengemis pasca imlek nihil," ungkap Miftahul ditemui di Kantor Dinas Sosial DKI Jakarta pada Kamis (22/2/2018).

Pengamen, pengemis dan gelandangan diserahkan kepada Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Cipayung, Jakarta Timur untuk diberikan pembinaan, begitu juga bagi orang terlantar sebelum akhirnya dipulangkan langsung ke daerah asalnya. Sedangkan ODMK dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Duren Sawit.

"Penjangkauan terbanyak ada di wilayah Jakarta Timur, tapi bukan pengemis melainkan ODMK, pengamen dan orang terlantar yang tidak bisa pulang ke daerah asalnya. Wilayah Jakarta Pusat juga begitu, ini jadi indikator jika pengemis musiman tidak menetap di Jakarta," paparnya.

Lanjutnya, dalam penjangkauan tersebut pihaknya menyoroti empat kasus, antara lain pengemis modus sumbangan yang dilakukan oleh Sunari (55) warga asal Indramayu dan pengemis modus membawa anak yang dilakukan oleh Yulia Safitri (43) warga asal padang dan anaknya Siti Aisyah (5). Keduanya dijangkau di wilayah Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan kemudian dirujuk ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1 Kedoya Jakarta Barat untuk mendapatkan pembinaan.

Temuan lansia terlantar antara lain Eti Mulyati (58) warga asal Bogor, Jawa Barat yang terlantar di Jalan Antasari Raya, Cipete, Cilandak, Jakarta Selatan serta Sri Astuti (73) warga asal Jawa Timur yang diselamatkan karena sakit keras dan terlantar di atas saluran air di Jalan Kemandoran I RT 06/14 Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Keduanya ditemukan dalam kondisi memprihatinkan dan dirawat di RUMAH Sakit Umum Pusat Fatmawati sebelum akhirnya diserahkan kepada Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3, Cilandak, Jakarta Selatan. "Kasus ini menjadi perhatian, karena itu tidak boleh memberikan sesuatu di jalan. khusus lansia, warga dapat melaporkan kejadian agar petugas dapat segera mengambil tindakan," tutupnya menambahkan.(red**)
Diberdayakan oleh Blogger.