.
Lensapewarta.com - Dalam menerapkan sebuah pendidikan drama kolosal yang cukup rumit manajerialnya, Saya mencoba untuk tidak mengesampingkan theory Slavin (1995), dalam proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, tetapi hanya sedikit modifikasi.
Sebuah rangkaian tantangan pagelaran drama dibuat secara parsial, kemudian pecahan-pecahan cerita digabung sehingga menjadi sebuah alur cerita yang utuh.
Tahapan yang dibutuhkan, antara lain :

MEMBACA - Siswa atau peserta drama dikelompokkan menjadi kelompok dasar/asal. Setiap kelompok diberikan sub pokok bahasan/topik yang berbeda untuk mereka pelajari.

DISKUSI KELOMPOK - Siswa yang mendapatkan topik alur cerita berdiskusi dalam kelompok pemain. Agar improvisasi dipanggung dapat tersaji sesuai sub topik bahasan.

UJI PANGGUNG - Setiap kelompok pementasan, wajib mencoba Trial Stage alur cerita sub topik untuk dimainkan bersama, dievaluasi dan diinventarisasi.

PENGGABUNGAN - Penghargaan terhadap kelompok, diapresiasi dalam format penggabungan sub topik menjadi tema alur cerita yang utuh dan diharapkan.

Sehingga pada gilirannya kelak, 100 hingga 200 gelaran drama yang dimainkan oleh kelompok siswa dari berbagai sekolah, akan digabung menjadi model sebuah alur cerita yang utuh dengan mengusung kolaborasi dan kerjasama yang kooperatif.
Gagasan pendidikan drama kolosal yang dimainkan oleh 2.000 bahkan lebih siswa, yang tadinya hanya bercerita hal-hal yang kelihatannya parsial, kelak akan menjadi sebuah alur cerita yang utuh.

Bukan April Mop, tapi model ajaran Jigsaw Kooperatif semacam ini, mirip memecahkan sebuah misteri kisah Jack The Ripper maupun pembunuhan berantai model Jigsaw. Hanya ini dikemas menjadi kisah cerita sehari-hari yang terjadi ditengah masyarakat.
Bila Anda pelaku seni, penulis cerita, berani menerima tantangan Saya...? Membuat 100 hingga 200 sub topik cerita dengan durasi 40 menit hingga 60 menit, yang melibatkan 2.000 hingga 3.000 pemain pelajar, lalu digabung dari sub topik menjadi topik atau tema cerita yang utuh.

Wah pasti kompleks sekali ya...

Achmad Fadilah
Ketum Bakornas PWI
.
Diberdayakan oleh Blogger.