LENSAPEWARTA.COM  SLAWI –  Jelang pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tegal periode 2019-2024 yang diperkirakan akan banyak muncul berbagai kampanye negatif, kampanye hitam, hingga ujaran kebencian (hate speech).

Ujaran kebencian yakni segala bentuk penghinaan, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, provokasi, penghasutan dan penyebaran berita palsu (hoax). Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Unit Tindak Pidana Tertentu dan Ekonomi Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tegal, Ipda. Mu’min dalam acara Sosialisasi Penggunaan Media Sosial di Ruang Rapat Bupati Tegal

Acara yang dihadiri oleh Asisten Administrasi Pemerintahan, Kepala Perangkat Daerah, Relawan TIK dan admin akun media sosial di masing-masing instansi di Lingkungan Pemkab Tegal ini dimaksudkan untuk mewujudkan pilkada damai dengan mengantisipasi penyebaran ujaran kebencian dan berita hoak jelang Pilkada Serentak 2018.

Asisten Administrasi Pemerintahan, Nurlaeli, yang membacakan sambutan Pjs. Bupati Tegal menyampaikan bahwasannya penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab justru menyebabkan timbulnya kebencian dan fitnah yang semakin merebak di kalangan masyarakat.

 Pjs. Bupati Tegal berpesan agar masyarakat atau dalam hal ini warganet agar bijak dalam menggunakan media sosial. Dikatakan Pjs. Bupati Tegal untuk mengurangi penyebaran berita hoax dan ujaran kebencian, masyarakat hendaknya selalu mengklarifikasi terlebih dahulu setiap informasi yang diterima kepada pihak-pihak yang berkompeten.

Apabila seseorang sering membaca berita yang mengandung ujaran kebencian maka akan membentuk karakter orang tersebut. Menurut arfan salah satu penyebab meyebarnya berita hoax dan ujaran kebencian adalah karena rendahnya minat baca orang Indonesia dan judul artikel yang Clikbait.(Rojikhi/ sumber setdakab tegal)
Diberdayakan oleh Blogger.